Mungkin ini adalah suara hatinya…


Anda suka bernyanyi? Suka menjadikan lagu sebagai kawan di perjalanan? Mungkin Anda perlu membaca ini…

Bandung menuju Tangerang, 20 Maret 2010

Saya naik bus mulai dari antreannya (maksudnya, barisan bus per-jurusan yang panjang itu, bukan di tempat pemberangkatan pemeriksaan terakhir sebelum bus meninggalkan terminal). Hati saya selalu bimbang dengan 2 pilihan di tempat ini dan dalam kondisi akan naik bus seperti ini, karena Tangerang dari Leuwi Panjang bisa ditempuh dengan 3 armada bus: Ar*mbi/B*ma Suci jurusan kali deres, Ar*mbi / B*ma Suci jurusan Merak yang pasti akan mampir ke poolnya di Tangerang, atau naik Pr*ma Jasa jurusan Kalideres. Dari segi pelayanan, bagi saya ketiganya memiliki kualitas yang sama; AC, eksekutif, bangku nyaman, bantal, toilet, dan smoking room (walau saya tidak suka dengan fasilitas ini! habisnya, kadang membuat satu bus keseluruhan tetep bau rokok, sih!). Bea perjalanan juga sama, Rp 40.000 sekali jalan. Masalahnya adalah, saya tidak tahu mana dari ketiganya yang akan berjalan lebih dulu. Karena walaupun kosong, bus-bus ini tepat waktu keberangkatan, jadi gak akan membuat kita sebal gara-gara nge-tem penumpang kelamaan. Jadi, inilah saatnya keberuntungan dan kekuatan intuisi memilih bus mana yang berangkat lebih dulu.

Karena bus yang saya lewatkan tadi pr*ma jasa, berati sekarang giliran Ar*mbi, tapi yang mana yang lebih dulu, yang ke Merak atau Kalideres? Setelah melihat sekilas dari kaca superbesar di depan bus, saya memutuskan naik bus Ar*mbi jurusan Kalideres. Bus itu baru terisi oleh kurang lebih 20 penumpang. Cukup kosong dan cukup untuk mendapatkan dua kursi diisi sendiri, 😀. Menimbang view yang bisa saya dapatkan, menurut statistik otak saya saat itu yang paling menguntungkan adalah bangku ketiga di belakang sopir, dengan pertimbangan: nyaman untuk melihat ke televisi di depan, mudah untuk turun dan berkaca lebar tanpa sekat yang memudahkan saya untuk melihat-lihat kondisi jalan. Duduk di bangku kedua (tepat di depan saya) seorang ibu setengah baya, usianya saya taksir seusia dengan ibu saya. Lalu, di belakang saya, ada seorang pemuda yang telinganya sedang disumbat headset, akrab sekali nampaknya telinganya dengan headset putih berdiameter besar itu.

Pilihan saya ternyata tak meleset, bus mulai melaju meninggalkan terminal begitu saya duduk nyaman di bus. Kondektur menyalakan televisi, film “Little Doo Little” yang sedang ditayangkan salah satu televisi swasta pun dimainkan. Saya belum pernah nonton film ini, jadi.. lumayan juga untuk teman iseng di perjalanan.

Jalanan ini sepertinya mulus-mulus saja tanpa hambatan, hingga ketika bus berpau di tol, pemuda berheadset di belakang saya bersuara tak jelas. Entahlah apa yang sedang dibicarakannya, mungkin dia sedang menelepon seseorang, atau… tidak, dia lebih terdengar sedang bergumam, “cinta..dia pergi merana..”. Dia terus bergumam, mengeluarkan suara yang kian tak jelas kedengarannya. Menggangu telinga, sebetulnya. Ah, entahlah! biarkan saja, toh aku bisa tidur tenang dengan 2 kursi saat ini, ku tinggal tidur saja, lah!

Baru akan kurebahkan punggung ini bertelekan bantal fasilitas dari bus, gumaman pemuda dibelakangku kian menjadi-jadi “mengapa..oh..mengapa, cinta itu begitu kejam..namun indah..tak terperi..” dan,,suara lainnya menyusul.. ‘bluk’, ‘blepak’, ‘duk-duk-pak’. dan sandaran punggung jok saya bergoyang seiring suara pukulan itu. Halah.. pemuda ini menjadikan sandaran punggung kursi saya sebagai “drum” dalam imajinasinya sambil bernyanyi ternyata… :(( batal deh rencana tidur nyaman saya!

Arrghh… mas-mas ini mulai mengganggu! Suara nya yang meneracau tak jelas..ditambah pula tangannya yang membuat guncangan-guncangan kecil di sandaran kursi saya. Awalanya saya mencoba sabar, hmm.. tapi lama-lama, pemuda ini tak lagi seperti bergumam, dia mulai bersuara keras bak orang bicara 2 meter jauhnya! Haduh.. gimana ya kasih tahu orang ini? hm..pikir..pikir.. pake cara jitu aja, deh: tengok! Saya longokkan kepala ke kursi belakang, muka sengaja seidikit saya buat jutek. Dan hasilnya, orang itu berhenti, sebentar…

Setelah saya lihat tadi, sampai kira-kira 5 menit orang itu diam, tapi kemudian mulai lagi dengan suara yang sama besarnya dengan kalau orang bicara 3 meter jaraknya. “Hooo..cinta! kau begitu mempesona… dirinya oo, indahnya!”

aarrhh… Pertama, orang ini menggangu kenyamanan perjalanan saya melalui pukulan-pukulannya pada sandaran punggung kursi bus. Kedua, saya sangat tidak kenal dengan semua lagu yang tadi dinyanyikanya. Saya yang kurang mengikuti perkembangan musik, atau dia yang memang lagu seleranya tak dikenal? entahlah… yang jelas, saya batal tidur nyaman di bus.

Dan kejadian itu terus berulang hingga sampai di Tangerang dan saya turun dari bus yang biasanya selalu berhasil membuat saya terlelap itu. Ketika saya berdiri dari tempat duduk, saya lirik sekilas pemuda di belakang saya itu.  Matanya terpejam seolah begitu menikmati lagu yang masih didengungkannya. Sambil tangannya menghentak-hentak di udara, seolah dialah drummer hebat lagu itu!

Huaahh…kehidupan! Mungkin itu adalah ekspresi hatinya, mungkin itu adalah suara hatinya… tapi terdengar hingga seantero bus ini? mengganggu kenyamanan penumpang lain dan kenyamananku? ah.. bukan lagi suara hati itu namanya.

Tapi setidaknya aku belajar, jangan keasyikan menggunakan headset, terutama jika diperjalanan dengan kendaraan umum dan Anda adalah orang yang senang bernyanyi, menyanyikan apa yang anda dengar!

Pos ini dipublikasikan di Bus Tangerang - Bandung, Cerita dari Bus dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s