Kegamangan di Bus Damri (part 1)


Bus Damri, Dago menuju Leuwi Panjang, 25 April 2010

Saya senang naik kendaraan umum, merakyat dan banyak yang bisa diamati.
Kecuali, satu! Satu hal yang selalu menyisakan kegamangan dalam diri. Dan kali ini, saya harus bertemu dengan pemicu rasa gamang itu!
Dua anak perempuan yang kutaksir usianya 3-4 tahun naik ke bus yang sedang kutumpangi ini. Anak pertama berbadan kurus dengan rambut ‘bob’ membawa ‘kecrekan’ dari tutup botol minuman. Anak kedua berpipi tembam dengan potongan rambut lurus seleher dan berponi yang biasa disebut potongan rambut “dora the explorer”, membawa tas kecil disampirkan menyilang bahu. Melihat dua anak ini, saya langsung teringat pada adik sepupu saya yang perempuan, kira-kira mereka sebaya. Tapi keadaan adik sepupu saya dengan dua anak ini tentu

Melihat anak-anak bagi saya selalu menyenangkan. Mengamati canda mereka, celoteh yang spontan dan diluar dugaan, ekspresi yang tulus… pokoknya, anak-anak selalu menyenangkan untuk diamati. Tapi tidak untuk kali ini, dan beberapa kesempatan belakangan. “Seniman bus kota cilik” ini selalu menyisakan rasa bersalah di setiap perjumpaan.

Adik kecil sayang, dimana ayah-ibu mu? Apakah mereka juga sedang mencari ma’isyah saat kau meneguhkan hati untuk menaiki bus ini demi beberapa keping uang? Apakah orangtuamu tahu bahwa kau perlu usaha yang lebih diabnding orang dewasa untuk dapat menaiki tingginya bus ini karena langkahmu tak cukup? Dimana ibumu saat kau butuh penjagaan dari kerasnya lingkungan “pentas seni”-mu ini? Apakah keduanya mengijinkanmu? dan..siapa yang mengajarimu untuk mendendangkan lagu-lagu itu demi keping-keping uang, melafalkan lagu yang bahkan kata-katanya belum dapat kau ucapkan sempurna tanpa terbata-bata?

Aku tak bermaksud menghakimi kedua orangtuamu, dimanapun mereka berada, semoga Allah senantiasa membimbing keduanya. Aku tak bermaksud menyalahkan caramu untuk mendapatkan jalan datangnya rizki Allah pada umatnya.

Hanya saja…setiap melihat anak-anak kecil sepertimu yang menengadahkan kepala sambil menyerahkan ‘kantung uang apresiasi’, aku merasa ada yang menggores nurani ini. Tak setuju dengan keadaan yang kau jalani, tapi tak dapat bertindak. Membuat tatapan mata rasa bersalah mengantar kalian turun dari bus sambil lalu mengucapkan terimakasih.

Aku, merasa berkali-kali salah. Salah karena tak bisa menyelamatkanmu dari keadaan ini, salah karena aku hidup cukup saat kalian harus menadahkan tangan, salah karena tiada yang kuperbuat untuk memperbaiki keadaan,,, serta, aku akan lebih salah lagi jika memberimu isi dari “kantung uang apresiasi” itu. Karena keping-keping logam serta beberapa “lembaran sakti” itu justru akan memberitahumu bahwa dengan cara ini, kau bisa mendapatkan uang yang bisa digunakan untuk membeli barang. Dan pemberian-pemberian apresiasi atas pentas seni mu ini, justru akan membuatmu terus bertahan di jalan.

Adik kecil sayang, kembalilah pulang dan bermain di rumah. Jangan lagi lukai apa yang ada di hati ini, karena tak bisa memenuhi diri menjadi “khoirun naas” yang “anfa’uhum lin naas”. Do’akan diri ini tetap berikhtiar mencari jalanmu untuk pulang, dalam dekap sayang ayah bundamu.

Pos ini dipublikasikan di bus kota, Cerita dari Bus dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s