Kegamangan di Bus Damri (bagian 2)


Lagi-lagi..pagi-pagi.. saya naik bus kota yang sepertinya hendak tutup usia.. Bus Damri Dago-Leuwi Panjang.

Lagi-lagi..saya berdiri, meski kali ni di dekat pintu belakang.

Lagi dan lagi…harus bertemu dengan mereka: para pembawa kantong pundi dengan kecrekan atau dilengkapi okulele yang mungil.

Dan lagi-lagi.. rasa itu, gamang dan rasa kalah pada keadaan muncul.

Sekali lagi, lagi-lagi… saya harus mengantar dia turun dengan tatapan mata yang menyampaikan rasa hati teriris.

Namun kali ni berbeda…luka di sanubari itu lebih menganga.
Kau tahu kenapa?

Pembawa kantong apresiasi seni ala bus kota kali ini adalah seorang anak lelaki.

Kalau lelaki lalu mengapa? Anak lelaki “menunjukkan bakat seni” di bus kota itu juga banyak.

Tidak! Kali ini membuatku lebih sakit hati.. anak itu lelaki dan dari posturnya kira-kira usianya 7 tahun.

Mengapa membuat lebih terasa bersalah? Padahal anak ini lebih besar dari yang kau tulis di bagian  pertama!

Tidak..anak ini mungkin lebih tua dalam usia dan lebih besar dalam ukuran fisik..

tapi..andai kau melihatnya.. berjalan dengan baik pun dia belum dapat lakukan sepenuhnya.

Usianya boleh tujuh tahun, tapi harusnya kau lihat dan sadari..perkembangan mentalnya bahkan menurutku belum mencapai 3 tahun.

Ia belum dapat berbicara… hanya suara-suara huruf vokal tak karuan menceracau dari mulutnya.

dia tak bernyanyi..okulele yang dipegangnya pun tak dapat dia mainkan sama sekali.

dia hanya tresenyum-senyum dan menyeracau di bus ini..khas anak sepertinya yang lain, yang belum sampai tahap berbicara.

Dia…anak laki-laki berusia sekitar 7 tahun ini…adalah anak berkebutuhan khusus dengan sedikit perbedaan pada kromosom nomor 21 dibandingkan manusia lainnya.

Anak istimewa yang Allah titipkan untuk Bunda-bunda mereka agar lebih dekat dengan Allah karena kesabaran bunda.

Anak ini, mengapa anak seperti ini pun harus berada di jalanan?

Padahal mengasah bakat mereka dalam sebuah pendidikan inklusif, dididik dengan kedisiplinan dan kesabaran orangtua dan lingkungan, akan membuat  mereka menjadi insan yang luar biasa bijaksana dan berguna. Yang dapat membuat orang-orang menyadari bahwasanya anak-anak ini istimewa..bukan kekurangan.

Melihatnya, tiga bait do’a kupanjatkan pada Allah saat itu juga…satu untukku, satu untuk keluargaku, satu untuknya..

Melihatnya, aku ingat dengan seorang teman yang pernah satu kontingen dalam sebuah kejuaraan di Solo. Saat itu, temanku ini juga 7 tahun..mengalami sedikit perbedaan pada kromosom 21 nya juga…

tapi keadaannya jauh berbeda. Temanku ini begitu mandiri, mampu berkomunikasi dan menyatakan pendapat mana yang disuka dan mana yang tidak. Dugaanku..sejauh ini..perbedaanya berada pada satu akar: yang satu mendapatkan alur pendidikan yang sesuai (temanku bersekolah di sekolah inklusif) yang satu harus turun kejalan menengadahkan pundi amal apresiasi seni bus kota.

Rabb.. lagi-lagi.. aku panjatkan 3 do’a itu..satu untukku, satu untuk keluargaku, satu untuknya..

Pos ini dipublikasikan di bus kota, Cerita dari Bus dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kegamangan di Bus Damri (bagian 2)

  1. Telly cahyati berkata:

    Anak jalanan…masalah yang kompleks.
    Selain tanggung jawab orang tua sepenuh nya, negara wajib melindungi nya, karena anak itu berhak mendapatkan masa kanak2 nya…

  2. merenung disini berkata:

    ya..kompleks dan panjang.
    sepanjang jalan itu sendiri, yang sambung-menyambung, hingga akhirnya berhenti ketika menemui jalan buntu.

    ada ide segar untuk mengembalikan adik2 ini ke rumah? (tidak lagi mengisi masa kecil di jalan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s