Pilih Taat, Patuh atau Takut?


Saya bukan orang yang pandai Berbahasa Indonesia secara baik dan benar, palagi sesuai dengan EYD yang diperbarui.

jadi, saya tidak akan berbicara mengenai perbedaan taat dan patuh dari segi kebahasaan disini.

Yang jelas, bagi saya.. taat itu tingkatannya lebih permanen dan menyeluruh.. sedangkan patuh itu pada sebuah aturan yang khusus dan lebih sempit. Secara bahasa bagaimana? Biar orang yang berkecimpung di bidang ini yang berkomentar.

Bagian saya? Bercerita..mengenai apa yang saya lihat dan saya pikirkan. Hehe..

Kejadian ini..kira-kira dua minggu yang lalu. Saya dalam perjalanan dari Tangerang menuju Bandung untuk bergabung dengan teman menuju Malang. (Kok isi blog ini jadi Tangerang-Bandung sama Dago-Leuwi Panjang melulu ya?).

Seperti biasa, saya naik bus AKAP yang berwarna kuning kehijauan (merk tidak bisa disebut, soalnya saya ga dapat royalti). Seperti biasa, bus melaju dengan kecepatan konstan di jalan tol. Pokoknya, perjalanan kali ini saya prediksikan tidak masuk di blog karena semuanya biasa-biasa saja sejak Tangerang hingga tol Cipularang. Sampai ini terjadi..

Saya lupa mencatat ini terjadi di KM berapa. Tapi..kejadian ini buat saya pribadi menarik. Apanya yg menarik? ya..lucu aja!

Ketika itu, bus sedang melaju di Tol Cipularang, kira-kira sudah masuk daerah purwakarta.

Tiba-tiba seorang Bapak yang menyampirkan jaket identitas aparatur negara (saya tidak menyebutkan beliau ini aparatur negara sebagai apa ya.. untuk keamanan) dan anaknya maju mendekati bangku supir bus.

Saya yang semula sedang bersiap memejamkan mata mengurungkan niat demi mengetahui apa yang akan dilakukan bapak tersebut di tengah jalan tol seperti ini.

Bapak (B):  “Pak, turun di KM depan ya!” (dengan nada tegas)

Supir (S): “Di Rest area?”

B: “Bukan, tapi di tanda KM di depan, setelah penunujuk lokasi yang ini”

S: “Maaf, pak! Ga bisa, peraturannya kan dilarang menaikkan/menurunkan penumpang di jalan tol” (Pak supir berbicara dengan nada yang bagi saya pribadi, terdengar melas)

B: “Ah..biasanya saya naik bus yang lain gak apa-apa turun di situ”

S: “Tapi kan pak.. saya dapat peraturan dari pool sudah seperti itu, sejak dulu..” (bapak supir kali ini menjawab dengan nada sedikit takut)

Kejadian yang lucu sekaligus miris. Seseorang yang dimanahkan negara untuk menegakkan keadilan dan dibiayai negara untuk dididik memiliki disiplin yang tinggi, jiwa bela negara dan taat peraturan, saat ini saya saksikan sedang mencoba membuat orang lain melanggar peraturan, atas keinginannya melanggar aturan.

Saya kembali menyimak.

Bapak aparatur kini tidak lagi menyampirkan jaket “identitas”nya, tapi mengenakannya dan menyilangkan (atau melipat?) kedua tangannya di depan dada. Kenapa jaketnya dikenakan ya? Kalau ber husnu zhon (prasangka baik .red), saya pikir mungkin karena dingin.. kalau suu’u zhon.. ya..supaya tambah keliatan kalau bapak ini tuh “aparatur yang bisa saja menge-dor”

bapak kondektur yang semula dibelakang kini maju kedepan, menghampiri bapak supir dan bertanya apa yang terjadi. Pak Supir sebagai pihak yang ditanya tidak menjawab dengan kata, hanya melirik kearah “bapak aparatur”. Lirikan itu terlihat jelas di spion di atas bapak supir kalau melihat dari tempat saya duduk. Sang kondektur nampaknya mengerti. Ah.. sikap pengertian ini, mungkin karena sudah banyak kejadian seperti ini.

Saya terus memperhatikan dari tempat duduk. Sambil terus mengira opsi mana yang akan diambil oleh ak supir.. Taat pada peraturan, patuh pada jargn konsumen adalah raja atau takut pada perintah bapak aparatur selaku konsumen, karena yang meminta adalah apaaratur negara yang “mungkin” sering berhubungan dengan senjata api.

dan… hasilnya sudah bisa ditebak sebetulnya, kan?! Yang menang adalah kepatuhan pada perintah dan rasa takut…

Bapak aparatur negara turun di tempat yang diinginkannya, dengan senyum jumawa sambil menyampirkan jaket identitasnya di pundak.

setelah bapak itu urun barulah pak supir mengeluh “kok ada ya orang kaya gitu?” keluhan yang sangat biasa terdengar. Namun jawaban bapak kondektur untuk pak supir lebih menyentil terdengar “saya justru bingung, kok ada ya orang kaya kamu yang masih nolak orang biasa meang senpi (senjata api) mau turun d jalan tol?”

Kalau boleh berceloteh, saya akan menimpali “Saya lebih bingung lagi, pergi sama supir dan kondektur yang bingung!”

Nampaknya, jargon “konsumen adalah raja” perlu direvisi. Dan, yang lebih penting lagi adalah… aparatur negeri ini perlu belajar disiplin tanpa atasan. Pemahaman “kan gak ada yang jaga” ternyata belum hilang….

Pos ini dipublikasikan di Bus Tangerang - Bandung, Cerita dari Bus dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Pilih Taat, Patuh atau Takut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s