Anak kecil bermain di jalan dan seorang ibu


Kota Kembang, 5 Oktober 2010

Robbighfirlii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani shogiiroo.. (Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku serta sayangilah keduanya seperti mereka menyayangiku di waktu aku kecil)

sabda Rasulullah SAW “Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling penyayang kepada keluarganya.”

kalimat do’a singkat itu yang terucap perlahan saat aku berjalan dari kampus menuju simpang dago hari ini.  Do’a itu spontan terucap di angkot menuju kost, sbagai bagian dari rasa syukur karena orangtuaku tak berlaku seperti seseorang yang kulihat hari ini.

Aku menyengaja untuk berjalan dari kampus ke simpang di waktu istirahat siang ini, baru kemudian naik angkutan kota di simpang ke kost. Ya, menyengaja karena aku bisa saja naik angkot dari pertigaan dekat kampus tanpa perlu berjalan kaki ke simpang, tapi aku berjalan sampai di tempat ini karena ingin menemuinya.

Pandanganku berkeliling mencari sosoknya. Dia biasanya ada di sini. Di bawah tiang lampu merah, tak ada. Di bawah pohon rindang ini pun tak ada. Beberapa menit aku mencari sosoknya dan nyaris naik angkot meninggalkan tempat ini karena berpikir tak bisa menemuinya, terdengar suaranya dengan kalimat patah-patah dari arah belakang. Aku membalik badan, dan.. aku mendapati dia!

Gadis kecil berkulit sawo matang ini mengenakan baju yang sama seperti kemarin sore ketika aku melihatnya. Kecrekan di tangan kanan, dan gelas plastik bekas air mineral kemasa di tangan kiri. Aku menyapanya seolah tak sedang mencarinya, karena aku merasa yakin ada beberapa pasang mata yang mengawasiku dari jarak beberapa meter tempatku berdiri.

Singkatnya, aku mendapat jawaban namanya. Tapi, aku yakin nama itu pun bukan nama asli. Ya, beberapa pengamen anak-anak di beberapa daerah yang kutemui sebelumnya juga memang sering enggan memberi nama asli sehingga sering menyebut asal nama. Dia mengatakan namanya Neng, usianya tiga tahun. TIGA TAHUN! Usianya tiga tahun tapi dia telah tau bagaimana berbohong mencari nama-nama jika ada orang yang menanyakan namanya.

Saat aku berusia tiga tahun, aku sedang menikmati indahnya bermain di kebun belakang rumah, memetik mangga yang matang di pohon, mencari kersen, dan aktifitas bermain lainnya dengan saudara dan teman-teman. Tapi anak ini, usia tiga tahun ia belajar (diajari lebih tepatnya) untuk membunyikan kecrekan, mengingat beberapa potong lagu (yang seringnya lagu orang tua), dan… menengadahkan tangan. Saat aku berusia tiga tahun, aku bermain di lingkungan rumah dengan penjagaan, tapi gadis mungil ini… dia bermain di perempatan jalan, mengumpulkan pundi-pundi kasihan orang-orang, berpanas-panasan, mengakrabkan diri dengan kerasnya kehidupan jalan. Aku tak sedang membandingkan nasib, tapi mungkin terlihat seperti itu. Betapa Allah memberikan anugerah terbaiknya untukku, dengan orangtua yang berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya, memberikan masa kecil yang manis dan penuh cinta, dengan memupuk keimanan, juga pendidikan. Allah menetapkan aku untuk terlahir dari rahim seorang istri shalihah yang mencintai keluarganya, yang menunjukkan dedikasinya sebagai seorang ibu dengan selalu memberikan rasa aman dan nyaman. Juga memiliki sosok ayah bertanggung jawab dan disiplin, yang penuh kasih pada anak-anaknya. dan aku ingat kalimat ibu dan bapak saat aku kecil dulu…

“Kalaupun ibu dan bapak tak memiliki penghasilan cukup untuk menghidupi kalian, takkan ikhlas hati ini melihat kalian di jalan..”

Kembali pada Neng, aku tanyakan kenapa dia berada disini dan kenapa dia mengamen. Jawabannya klise.. membantu orangtua. Membantu orangtua adalah perbuatan yang terpuji, tapi jangan lupa.. bahwa anak-anak juga memiliki hak nya, hak untuk hidup (QS al-Isra’ [17]: 31), hak penyusuan (QS al-Baqarah [2]: 233), hak pengasuhan, hak mendapatkan kasih sayang, serta hak mendapatkan perlindungan dan nafkah dari keluarga.

Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Rasullulah saw., “Ya Rasullulah, apakah hak anakku dariku?” Nabi saw. menjawab, “Engkau membaguskan nama dan pendidikannya, kemudian menempatkannya di tempat yang baik.”

Lalu.. kalau anaknya ditempatkan disini, orangtuanya mencari ma’isyah dimana?

Aku melirik sekilas pada seorang wanita, kutaksir usianya 27-30 tahun, yang duduk di bawah pohon rindang sana. Wanita itu mengamati kami (aku dan Neng) sedari tadi. Inilah waktunya aku mendapatkan kepastian untuk menghilangkan prasangka ku pada wanita di bawah pohon itu. Sejak pertama melihat Neng di perempatan ini, aku yakin wanita itu pasti keluarganya, entah ibu atau saudaranya yg lain.

“Neng, ibunya emang lagi dimana?” Neng terlihat bingung hendak menjawab pertanyaanku.

Ada gurat keraguan yang jelas di wajah mungilnya. Neng menoleh pada wanita di bawah pohon itu, lalu menjawab

“Ibu nuju di bumi, teh..” (ibu lagi di rumah, kak..)

“Oh, di bumi? ibu na teu digawe?” (Oh, di rumah? ibunya gak kerja?)

“ceuk ibu, di gawena nungguan imah…” (kata ibu, kerjanya nungguin rumah)

perasaan paling tepat yang mewakili pikiranku saat itu adalah: BINGUNG. Aku bingung mendapati kalimat Neng tadi. Ibunya menunggu di rumah sedangkan anaknya “bekerja” mengumpulkan uang, di jalan, kepanasan, kehujanan, menanggung resiko bahaya terjatuh dari angkot, terserempet motor. Apa gak kebalik ya???

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:

“Kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf ” (QS al-Baqarah [2]: 233)

memberikan makan pada para ibu yang dimaksud disini adalah menafkahi keluarga, tentu termasuk di dalamnya adalah anak-anak.

waktu menunjukkan pukul 12, dan aku harus bersegera pulang. Kusudahi dulu pertanyaan-pertanyaan dengan Neng hari ini. Aku pamit, tapi dia seperti berharap diberi sesuatu. Hmmm.. aku takkan memberinya uang, jadi aku memberinya sepotong roti dari dalam tas yang memang kusiapkan untuk ini.

Aku menaiki salah satu angkot yang letaknya beberapa meter sebelum lampu merah. Angkot yang kunaiki berhenti karena lampu lalin berwarna merah, berjarak beberapa meter dari Neng yang sedang berbicara pada wanita di bawah pohon itu.

“Mak, tadi aya anu masihan ieu.. sareng nanya, emak dimana.. emak mesen pami aya nu naroskeun emak di bumi pan nya??” (mak, tadi ada yang ngasih ini, sama nanya, emak dimana.. emak berpesan kalau ada yang tanya, emak di rumah kan ya?)

Neng terlalu polos untuk menyadari bahwa aku di angkot ini mendengar kalimatnya, dan wanita dibawah pohon yang Neng panggil emak itu terlihat gusar, mungkin beliau mengira aku pegawai dinas sosial yang sedang menyamar untuk operasi penertiban, atau semoga… hati wanita itu gusar karena sedih telah mengajarkan anaknya mengatakan kebohongan.

Anak sekecil itu, lagi-lagi.. dipesan untuk berbohong. Siapa yang masih jujur dan berdedikasi di bumi-Mu ini ya Robbii??

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadiida).” (QS. Surat An-Nisaa’ [4] : 9)

Anak sebagai pembawa kegembiraan:

“Hai Zakaria, Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengannya. (QS. Maryam [19]: 7)

Pos ini dipublikasikan di umum dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Anak kecil bermain di jalan dan seorang ibu

  1. ramlannarie berkata:

    mantabbb kunjungan balik ditunggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s