Impian dan Mimpi: ketika satu persatu impian itu terwujud


sunrise di SMAN CMBBSApa bedanya mimpi dan impian? Entahlah, kalau dicari di http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php yang akan Anda temui adalah arti dari mimpi, dan Anda tidak menemukan arti kata impian. Yang jelas, saya melabeli diri saya sebagai orang yang punya impian, meski sebagian orang yang belum mengenal saya lebih jauh akan berpikir saya pemimpi. Buat saya sendiri, punya impian itu berarti punya sesuatu yang diinginkan, dan ada usaha untuk mewujudkannya, sedangkan pemimpi terus bermimpi selama mimpi itu gratis dan gak kena pajak, hehehe😀.

Saya mulai membangun impian saya sejak kecil, bahkan sejak sebelum sekolah TK. Waktu belum bisa menulis, saya terkadang mendeklarasikan mimpi-mimpi saya ke saudara-saudara sepupu sepermainan saya. Ketika saya sudah belajar menulis, entah siapa yang menginspirasi, saya sering menuliskan hal-hal yang saya harapkan terjadi dalam hidup saya. Saya tuliskan yang saya ingin raih, yang ingin saya miliki, yang menurut saya sepantasnya dimiliki oleh orang-orang terdekat saya, yang menurut pikiran saya akan terjadi di waktu yang akan datang, dan hal-hal lainnya yang ketika orang lain melihatnya sebagian akan berkomentar, “ah.. mimpi!”.

Wajar kalau orang-orang disekitar saat itu menilai saya sebagai pemimpi, karena tidak logis rasanya bocah perempuan kurus ingusan berambut pirang karena sering kepanasan main layangan berharap bertemu seorang Pak B.J. Habibie. Atau, mungkin mereka heran di zaman biaya masuk sekolah begitu mahalnya, ada anak TK yang nulis kalau dia berharap nanti dia SMA nya beasiswa dan berasrama yang kalau mau ke sekolahnya dia perlu naik bus kota dari rumah ke asrama sekolah. Atau juga, mereka pikir sedang menghadapi anak yang setengah sinting waktu buka peta Indonesia, anak kelas 1 SD itu bilang “nanti saya ke pulau ini, pulau ini, tempat ini, dan ini.. gratisan” sambil nyengir mamerin gigi depannya yang saat itu caries alias reges. Hahaha..

Karena gak semua orang menanggapi mimpi-mimpi saya dengan baik, dan kadang komentar orang-orang malah sukses bikin saya manyun sekaligus patah semangat buat mimpi lagi, saya mengurangi frekuensi cerita saya. Mimpi-mimpi yang awalnya saya tulis di sembarang kertas dan sembarang buku itu (sehingga sering terbaca orang-orang) akhirnya enggak saya tulis. Sekalipun saya tulis, saya simpen di lemari biar gak ada yang tau. Tapi saya bersyukur, sampai saat ini saya masih seorang penjalin jalan impian (atau mungkin malah makin menjadi-jadi? gak tau deh..)

Apa hasil dari cerita dan tulisan tentang mimpi-mimpi saya itu? Baiklah, sebagian akan saya tulis.. bukan untuk show off atau pamer-pameran apapun, ini saya tulis semata-mata ingin berbagi, siapa tau ada yang mampir kesini, baca tulisan ini dan lagi patah semangat, putus asa mengejar cita-cita.

  1. Nilai rapor saya selama SD, selalu saya tulis di mimpi-mimpi saya itu. Misalnya caturwulan I (dulu belum pake semester sistem sekolahnya) saya dapat nilai 7 untuk Bahasa Indonesia, lalu saya tulis nilai 7 itu di tabel pakai pulpen (pena) dan menuliskan angka 8,5 di kolom sebelahnya (kolom untuk caturwulan II) pakai pensil. Hasilnya? mata pelajaran yang saya targetkan untuk naik itu, nilainya meningkat lebih baik dibandingkan mata pelajaran atau nilai di caturwulan yang enggak saya targetkan. Misalnya caturwulan III saya lupa nulis harapan tentang nilai-nilai ini, biasanya diakhir caturwulan peningkatan nilainya biasa-biasa aja, atau bahkan turun.
  2. saya dulu pernah menulis dan memimpikan, ketika saya SMA saya akan sekolah di sekolah SMA berasrama, yang lokasinya jauh dari rumah, sehingga saya harus naik bus kota untuk sampai ke sekolah berasrama itu. Dan, dalam angan-angan saya saat itu, sekolahnya gratis atau saya dapat beasiswa sehingga tidak perlu bayar uang sekolah. Apa yang saya dapat? Ketika saya SMA, saya bersekolah di SMA Negeri milik pemerintah provinsi, yang sekolahnya dibiayai APBD Provinsi, tanpa membayar uang SPP atau apapun itu namanya yang orang-orang bayarkan untuk sekolah setiap bulan, tidak bayar uang makan, uang ekstrakurikuler… pokoknya sekolahnya gratis (bayar seragam waktu mau masuk, ding hehe) yang penting lagi… berasrama dan untuk kesana, saya harus naik bus antar-kota melewati jalan tol Jakarta-Merak dari km 18,5 sampai km 72, disambung dengan perjalanan 1 jam lagi. Beginilah Allah mewujudkan keinginan masa kecil saya, begitu sempurna, tanpa kurang satu bagian pun. Subhanallah!
  3. Saya bermimpi mengunjungi banyak tempat di Indonesia gratisan. Saya juga gak ngerti impian kaya gini dapatnya dari mana. Indahnya, Allah subhanahu wa ta’ala dengan sifatnya yang Maha Pemberi dan Maha Penyayang hingga saat ini terus memberikan saya banyak kesempatan untuk mengunjungi belahan bumi-Nya secara gratis. Caranya beragam, dari ikut konferensi, pelatihan, lomba, sampai sekedar mengunjungi teman. Saya pernah seminggu di kota Solo dengan transportasi nol rupiah dan mendapatkan uang saku waktu lomba CI-BI tingkat nasional ketika SMA. Saya juga pernah ikut pelatihan di Tulungagung yang berbonus ke Trenggalek, Ponorogo dan keliling Tulungagung..Gratis! Berlibur sambil penelitian sederhana di Anyer.. GRATIS! Menginap di guesthouse Kebun-Raya Bogor, kunjungan dan semiloka lingkungan hidup di Bogor waktu SMP, juga gratis. Keliling Banten, gratis. Dan masih ada lagi tempat-tempat yang berhasil saya kunjungi secara gratis. Sekali lagi, lagi dan lagi, Allah memeluk apa yang saya harapkan dan mewujudkannya dengan keindahan.
  4. Sejak kecil, bahkan saat saya belum mengerti siapa itu Bapak Baharudin Jusuf Habibie, saya selalu bilang pada orang-orang bahwa di waktu saya besar nanti, saya pasti dapat bertemu dengan Pak Habibie. Saya saat itu gak pernah kebayang, di kesempatan seperti apa saya akan bertemu beliau dan kapan waktu tepatnya. Saya hanya berpikir, untuk membuat kesempatan dan kemungkinan sebanyak dan sebesar mungkin untuk bertemu beliau. Sewaktu SMP saya berfikir untuk megikuti lomba-lomba sains dan teknologi, karena saya baca di berita-berita bahwa beliau sering menghadiri penganugerahan peneliti dan orang berjasa di bidang teknologi, tapi saya belum berkesempatan bertemu beliau. Sewaktu SMA saya mendengar kabar bahwa beliau dan Bu Ainun mulai rutin berobat ke luar negeri dikarenakan usia yang kian menua, dan saya segera merajinkan do’a kepada Allah, semoga saya sempat bertemu dengan Bu Ainun dan Pak Habibie selagi keduanya masih hidup dan semoga keduanya panjang umur. Saya juga memutuskan untuk menentukan pilihan masuk ke ITB setelah bingung memilih antara 3 universitas yg menerima saya. Salah satu pertimbangan saya memilih ITB adalah, karena Pak Habibie pernah berkuliah di ITB, dan mudah-mudahan dengan begitu saya bisa bertemu dengan Pak Habibie. Maha Suci Allah yang Tidak Pernah Lupa, Tidak Pernah Tidur, dan tidak ada satupun mahluk-Nya yang luput dari pengawasan-Nya yang maha Melihat. Allah mengizinkan saya berada dalam satu ruangan dengan Pak Habibie dalam presidential lecturer di kampus ITB, melihat wajah beliau dan Bu Ainun begitu dekat dan nyata (yaiyalah nyata, ya..) di tahun pertama kuliah saya di ITB.

Ini hanya sebagian kecil dari contoh Maha Besar Allah dalam mewujudkan harapan-harapan saya. Yang jelas, ketika kita berharap sesuatu dan kita menceritakannya kepada orang-orang, menuliskannya menjadi untaian harapan, secara tidak langsung kita telah mendoktrin otak kita sendiri untuk mencapai itu. Kerja alam bawah sadar yang telah terdoktrin memang sering tidak disadari dan begitu cepatya diluar dugaan alam sadar. Yang terpenting adalah, Anda tahu siapa yang paling berkuasa dalam menentukan seluruh yang terjadi di jagat raya ini – Tuhan kita Allah dengan nama-nama dan sifat-Nya yang agung. Semua harapan yang Anda miliki akan percuma, tatkala Anda menuliskannya tapi Anda tidak mengirimkan catatan itu kepada Allah Yang Maha Pengabul Do’a.

Seperti apa yang Allah nyatakan dalam Al Qur-an, Surat Ar-Rahmaan (surat ke-55):

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ  |   يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

28. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

29. Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadanya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan*.

*Maksudnya: Allah Senantiasa dalam Keadaan Menciptakan, menghidupkan, mematikan, Memelihara, memberi rezki dan lain lain

Di dalam surat Ar-Rahmaan, Allah menantang manusia sebanyak 31 kali dengan pernyataan “Fa bi ayyi aa-laa-i robbikumaa tukadzdzibaan” – Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang akan kamu dustakan?- Tidak ada, tidak akan ada bagian dari tiap detik yang kita pinjam dari Allah ini yang bisa kita dustakan, kita ingkari, dan kita katakan bukan bagian dari nikmat Allah. Membuat mimpi, merencanakan dan berharap kehidupan yang lebih baik adalah bagian dari usaha manusia dan salah satu wujud kesyukuran terhadap adanya nikmat dalam hidup.

Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu (Andrea Hirata)

Selamat membangun impian ^^

Pos ini dipublikasikan di curhat, impian, umum dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Impian dan Mimpi: ketika satu persatu impian itu terwujud

  1. laila berkata:

    motivasi., ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s