TOMCAT, bukan serangga baru


Sekarang ini, media informasi yang ada di tanah air sedang ramai membahas berita seputar TOMCAT. Serangga ini mendadak jadi begitu terkenal, sejak kemunculannya di sebuah kawasan elit daerah timur Pulau Jawa beberapa minggu lalu (dari tanggal tulisan ini dipublikasikan). Berita mengenai habitat asalnya, cara berkembang biak, racun, hingga apa yang disuka dan tidak disuka oleh TOMCAT rasanya sudah diliput berbagai media massa. Seperti biasa, pemberitaan media yang bertubi dan sering “overexposed” membuat masyarakat Indonesia yang tekun menonton berita menjadi panik.

Tomcat itu, apa sih?
Waktu awal-awal tomcat disebut di berita, saya bingung apa itu tomcat. Karena berita yang ada semuanya bernada heboh seolah tomcat ini adalah wabah mematikan. Pas saya liat foto tomcat ini… saya malah ketawa-ketiwi, menertawakan sebuah pengalaman masa muda jaman SMA *halah, padahal sekarang juga masih muda. Serangga yang disebut tomcat ini ternyata adalah serangga yang begitu akrab menyapa hari-hari saya di asrama sewaktu masih SMA sejak tahun 2006. Hanya saja, dulu kami tidak tau kalau serangga itu disebut tomcat, kami biasa menyebutnya serangga herpes. Disebut serangga herpes karena racun dari serangga ini bisa membuat kulit melepuh seperti saat terkena virus herpes.

Kenapa serangga ini baru muncul dan terkenal sekarang sih?
Karena banyak yang menjadi korban? Mungkin iya, tapi jumlah siswa, civitas, dan warga sekitar sekolah saya yang jadi korban tomcat ini juga banyak banget jumlahnya. Dan saya lebih tertawa lagi waktu baca headline berita ini: “AWAS! TOMCAT MASUK CILEGON”, atau “WABAH TOMCAT SUDAH SAMPAI BANTEN” ada juga yang menulis “TOMCAT JUGA BERMIGRASI KE TANGERANG” juga kalimat berita lain yang sejudul. Apakah sekolah saya yang berlokasi di Pandeglang itu tidak tercatat sebagai Provinsi Banten sampai masyarakat Banten harus dibuat panik dengan kehadiran tomcat yang diberitakan media masa berasal dari tomcat di surabaya, kemudian bermigrasi (menyebar) sampai ke Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten? Alamat sekolah saya ini secara administratif ada di Pandeglang, Provinsi Banten, dan serangga ini sudah jauh sebelum sekolah saya dibangun dapat ditemui oleh warga sekitar. Jadi, saya berkeyakinan kalau tomcat yang ada di Banten pastinya bukan ‘pindahan’ atau hasil persebaran dari daerah lain di Indonesia. Karena, tomcat di Pandeglang sudah ada jauh sebelum tomcat ini jadi artis di media berita kita. Lagipula, saya juga pernah menemukan tomcat di anyer sewaktu masih SMA. Menurut pengakuan orang-orang yang lebih tua di sekitar saya, tomcat ini memang sudah sering ditemui sejak dulu, terutama di daerah persawahan.

Jadi, kenapa tomcat sekarang naik daun, jadi headline, dan fotonya tersebar disana-sini? Jawabannya, menurut saya adalah karena pemberitaan media. Media massa kita kan berbentuk grup (coba saja misalnya TV A satu grup dengan TV B, C, dan D atau juga misalnya TV A, satu grup dengan TV B dan media cetak E), jadi kalau ada berita satu diulas sama TV A, TV B juga akan membahas topik cerita itu. dan grup lain juga akan memiliki berita itu. Karena pemberitaan media massa, masyarakat jadi lebih mengawasi lingkungan sekitarnya, sehingga masyarakat baru menyadari bahwa di lingkungannya ada tomcat. Menurut pendapat saya yang bukan orang biologi atau dokter hewan, tomcat terkesan mewabah dan tersebar karena alasan tadi: masyarakat kita baru sadar bahwa disekelilingnya juga ada tomcat, setelah melihat sosok tomcat di media massa. Dan tomcat yang mereka lihat bukanlah tomcat yang bermigrasi dari Jatim ke Jateng atau daerah lainnya, melainkan tomcat dari lingkungannya. Pola pemberitaan media lah yang membuat tomcat seolah tersebar kemana-mana.

Sekolah tempat saya mengenyam bangku SMA, yaitu SMAN CMBBS, menjadi tempat mula berjumpa dengan serangga kecil berwana jingga-hitam ini. Serangga ini kadang ditemui di masjid sekolah, menempel di kain hijab (pembatas) daerah shaf wanita dan pria. Kadang juga bisa ditemui di jendela asrama dan kelas. Pagi, siang, sore, malam, kita bisa menemui serangga ini. Entah sedang hujan maupun panas, tomcat menemani cerianya masa SMA kami.

Korban tomcat di SMA kami banyak, hampir seluruh siswa pernah mengalami kulit melepuh akibat racun tomcat. Sampai-sampai ada slogan “belum jadi anak CMBBS kalau belum kena serangga herpes”. Saya sendiri, pernah merasakan panasnya luka bakar akibat tomcat ini pada tahun 2006, sejak 3 hari sebelum menjalani ujian semester pertama saya di sekolah berasrama. Tomcat adalah serangga yang membuat saya merasakan pengalaman untuk pertama kalinya sakit di daerah yang jauh dari orangtua. Bagaimana rasanya? Aaaah.. tidak enak! Hidup di sekolah berasarama untuk belajar itu seru, tapi kalau sakit.. meski teman dan guru di sekolah sangat perhatian, berada dekat dengan orangtua itu tetap yang paling didambakan. Hehehe

Selama 3 tahun hidup bersama tomcat, saya cuma merasakan “penyakit” akibat racunnya satu kali. Selebihnya? tiap kali saya ketemu tomcat,  saya sering “bermain” dengannya. Kadang tomat ini saya biarkan berjalan di jari-jari saya, agar lebih mudah memperhatikan ciri-cirinya. Kadang pula saya ambil kaca pembesar untuk melihat bentuk ekornya. Atau kadang saya hanya sekedar memperhatikan gerak-geriknya di kain alas sholat masjid ketika bertemu. Dan semua perlakuan saya terhadap tomcat itu tidak menyebabkan racun tomcat melukai saya.

Ada berita kalau tomcat senang sinar lampu, sepertinya benar. Soalnya, kalau lampu masjid dimatikan selepas shalat isya, biasanya hanya ada sedikit tomcat di masjid ketika lampu masjid dinyalakan kembali menjelang pukul 3 pagi. Ada juga berita kalau tomcat ini menyebarkan racunnya tidak dengan gigitan, kalau dari pengalaman memainkan tomcat di kulit jari dan saya tidak mengalami luka bakar akibat tomcat, sepertinya kabar ini benar. Ada media masa yang pernah mengabarkan racun tomcat disebarkan melalui sengatan ekornya, hem.. kalau yang ini sepertinya kurang tepat. Ekor tomcat saat dia merasa terancam biasanya diangkat, sehingga terlihat seperti kalajengking. Tapi ekornya itu tidak menyengat (lagi-lagi ini hanya cerita pengalaman yang belum dibuktikan melalui penelitian). Racun tomcat akan menyerang kulit manusia dan menimbulkan rasa panas kemudian jadi melepuh ketika tomcat dimatikan dan tubuhnya pecah. Jadi, cara terbaik untuk menghindari tomcat adalah dengan tidak mematikannya sampai tubuhnya pecah dan racunnya mengenai kulit.

Kalau sudah terkena racun tomcat, bagaimana mengobatinya?
Nah, ini juga yang saya masih agak bingung. Orangtua saya waktu itu mengira sakit di kulit saya ini akibat virus herpes, jadi luka melepuh itu diobati dengan salep (zalp) oles antivirus, waktu itu saya pake Acyclovir. Kalau teman-teman lain di sekollah, ada yang menggunakan bedak gatal, ada yang menggunakan zalp antivirus, sampai teh basi. Cerita tentang penggunaan teh basi sebagai obat ini, didapat dari penelitian adik kelas saya, Regina Ivanovna, dan berhasil mengantarkan dia ke kejuaraan penelitian ilmiah tingkat nasional.

Untuk orang non-medik, sepertinya akan sulit membedakan antara luka akibat herpes dan akibat racun tomcat. Yang pasti, saran saya.. sewaktu ada bagian kulit yang terasa panas atau terlihat memerah, langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera alirkan air bersih, jangan gunakan pasta gigi (odol), minyak tanah, atau apapun. Jika lepuhan melebar setelah dialirkan air, segera lakukan pengobatan ke dokter, atau obati mandiri dengan kompres teh basi, atau bedak gatal. Karena luka bakar akibat tomcat ini sebetulnya akan mengering setelah 7-10 hari, obat yang digunakan bukan untuk penyembuhan, melainkan mempercepat proses pengeringan dan pengelupasan kulit pasca serangan tomcat.

jadi, jangan panik. Tomcat tidak akan menyerang kalau tidak lebih dulu diserang. Serangan tomcat yang habitat aslinya di sawah ini juga memberikan tanda pada manusia untuk berfikir, bahwa tingkah laku kita yang merusak habitat hidup makhluk hidup lain menyebabkan mereka kehilangan tempat hidup, dan meminta tempat untuk hidup bersama manusia. Pertanyaannya: sudahkah kita memberikan tempat hidup untuk makhluk ciptaan Tuhan ini?

tomcat
penampakan Paederus littoralis, selang-seling jingga-hitam.
sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/81/Paederus_littoralis01.jpg/800px-Paederus_littoralis01.jpg
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s