Cantik itu.. mahal ya?! (antara saya dan kawat orthodontic)


Saya lupa kapan tepatnya mulai menggunakan kawat gigi, yang saya ingat cuma tahun dan bulan nya: Januari 2010. Jadi, sampai saat ini benda asing berupa kawat melintang dan bracket yang menempel pada permukaan gigi saya sudah berumur 2 tahun 3 bulan. Terakhir kali saya kontrol ke dokter gigi pada Bulan Maret minggu ke-3, beliau mengatakan kalau kawat gigi saya ini sudah bisa dilepas dua minggu kemudian. Tapi, karena kesibukan kuliah dan hari libur, saya belum mengunjungi dokter gigi untuk melepas kawat gigi ini.

Selama 2 tahun lebih mencoba berteman dengan kawat gigi atau biasa disebut behel, pastinya ada cerita hidup yang berkenaan dengan alat yang saya pakai ini. Beberapa kejadian sedih, sakit, malu, dan senang pernah dialami bersama behel ini. Untuk kali ini, saya mau berbagi pengalaman yang berkenaan dengan persepsi orang-orang terhadap pengguna behel.

Latar waktu cerita ini terjadi saat beberapa bulan awal menggunakan behel, saya sedang di perjalanan menggunakan jasa transportasi umum. Seorang ibu duduk di samping saya, menjadi teman perjalanan kala itu. Setelah ramah-tamah standar orang yang berkenalan di bus, ibu itu akhirnya bertanya tentang kawat gigi saya.

“Giginya dikawat dari kapan, dik?” Saya jawab dengan informasi waktu pemasangan. Ibu itu kemudian bertanya lagi,

“Berapa sekarang biaya pasang behel? dulu saja yang saya tau sudah jutaan”. Pertanyaan yang bagi saya agak sensitif sebetulnya untuk dijawab. Sensitif karena tiap tempat praktik dokter spesialis orthodontic memiliki biaya pemasangan yang berbeda dan harga alat behel ini juga berbeda tergantung jenis materialnya. Terlebih, saya bukan orang yang punya kapabilitas dalam hal per-kawat-gigi-an, hehehe. Merasa pertanyaan ini bagian dari basa-basi jadi gak perlu dijawab terlalu serius, saya cuma senyum, manggut.

Ibu itu rupanya masih penasaran, “Jadi berapa waktu pasang biayanya?”. Ulangan pertanyaan. Seseorang biasanya mengulangi pertanyaan kalau memang benar ingin tahu, jadi pertanyaan itu bukan sekedar basa-basi, tapi mencari informasi. Setelah berpikir beberapa saat, saya menyebutkan sebuah nominal yang sekarang ini cukup untuk bayar kuliah saya satu semester dengan pengambilan 20 sks. Kalau awalnya saya menilai ibu ini penasaran dengan biaya behel karena mencari informasi, respon dari beliau justru agak mengecewakan saya. Gimana responnya?

“Wah.. murah itu segitu, dik.. Tapi ya memang, mau cantik itu mahal, ya kan?!”

Untuk biaya pemasangan behel oleh seorang dokter spesialis ortho di tahun 2010, biaya yang orangtua saya bayarkan ini memang masih tergolong di bawah biaya pemasangan rata-rata. Soalnya, dokter gigi yang melakukan pemasangan itu memang memberikan biaya khusus untuk saya. Dokter gigi ini adalah anak dari teman ibu saya di Puskesmas dan satu alamamater SMP. Beliau juga pernah main beberapa kali dengan saya waktu kami masih kecil.

Yang membuat saya diam dan memilih enggan menanggapi adalah bagian ujung dari respon ibu tersebut “mau cantik itu mahal”. Karena dengan berucap seperti itu, yang saya tangkap adalah.. ibu ini menilai saya memakai kawat gigi untuk tujuan “cantik”. Semacam sedikit merubah penampilan fisik agar terlihat lebih oke.

Pendapat seperti itu, tidak sesuai dengan kondisi dan alasan saya memakai behel. Menggunakan behel bagi saya adalah sebuah keterpaksaan dan kondisi gambling antara boleh tidaknya bagi saya menggunakan behel dipandang dari ajaran agama. Saya memutuskan untuk menggunakan kawat gigi dikarenakan alasan kesehatan, atas saran seorang dokter THT waktu saya konsultasi mengenai sakit saya yang agak berkepanjangan. Behel ini memang tidak menyembuhkan, tapi manfaatnya sekarang dirasakan, saya jauh lebih sehat dan jarang mengalami sakit itu. Keputusan pakai behel ini juga sudah dipikirkan matang-matang, bahwa saya pakai behel untuk kesehatan, bukan untuk merubah bentuk ciptaan Allah.

Dan, pake behel itu rasanya benar-benar tidak enak. Susah makan beberapa jenis makanan yang biasanya tinggal caplok. Sakit, karena kawat gigi ini sifatnya menarik gigi-gigi untuk “parkir” di tempat yang seharusnya. Malah kadang kalau baru habis kontrol, saking sakitnya sulit untuk ga keluar air mata waktu ngomong. Malu, karena kalau habis makan, pasti ada makanan yang nyangkut (gara-gara ini, saya jadi agak pendiam kayanya, hahaha). Repot, karena harus rutin ke dokter gigi yang biasanya sebulan sekali. Gak pede, karena buat saya pake behel itu jadi seolah-olah saya robot, hehe. Ditakutin anak kecil, karena pernah ada anak kecil yang main-main sama saya, tapi malah nangis pas lihat behel saya, duh.

Saya memaklumi, kalau sebagian orang di negara kita ini memandang behel sebagai suatu bagian dari fashion atau dianggap sebagai bagian dari “estetika-kecantikan”. Bagaimana tidak? sebagian orang Indonesia ternyata menggunakan behel non-medik. Behel jenis ini, kata dokter gigi, bisa dipasang di tukang gigi atau di beberapa klinik yang sifatnya gak narik gigi, cuma nempel aja. Jadi, kalau saya bisa kesakitan sampai mengeluarkan air mata menahan sakit tarikan kawat gigi, orang-orang yang pasang behel tempelan untuk alasan gaul-gaya-fashion-trendi ini ga perlu merasakan sakit itu.

Kontras, memang. Saat saya gak pede akibat gigi saya warna-warni, orang-orang ini justru berkreasi sekreatif mungkin dengan warna karet behel. Saat saya merasa repot harus membersihkan gigi dengan cara-cara tambahan dan ingin rasanya melepas logam aneh ini, sebagian orang yang lain malah senang ada kawat itu di giginya. Diwaktu saya berpikir dan bilang ke ibu saya “uang segini kan bisa untuk keperluan A, B, C, atau D”, dokter gigi yang merawat gigi saya justru bilang “yang kaya gitu tuh sok kebanyakan duit apa gimana, ya? dokter gigi aja pada bingung”. Hehehe.. inilah dunia, penuh warna :-p

Malah, sempat ada jargon, GAUL itu 3B: pake BB dan Behel. Walah, indikator gaul kok behel, ada-ada aja. hahaha. Oiya, karena bahan dari behel ini juga macam-macam dan tergolong berharga mahal, sbegaian orang justru memasang behel untuk menunjukkan “kelas kemampuan ekonomi”. Masih cerita dari dokter gigi yang masangin kawat gigi saya, di kelompok tertentu orang-orang yang pake behel itu masih dianggap orang kaya. Seolah-olah pakai behel itu bisa menunjukkan “nih, di gigi aku ada sekian juta”. Apalagi, kalau behelnya yang kualitas bagus.. dari platina (emas putih). Ckckckck…

Secara pribadi, saya pikir menjadikan behel sebagai acuan hal-hal fashion, aktualisasi diri, penampilan, dan status kemapanan itu aneh se-aneh-aneh-nya. Cantik itu bukan dengan memagari gigi, karena memang definisi cantik itu sendiri pun gak pasti. Gaul itu bukan dari fisik dan fashion, tapi bagaimana seseorang bisa bersosialisasi dengan kaidah yang benar. Ah, sudahlah.. saya gak mau ceramah.😀

Pos ini dipublikasikan di curhat, umum dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Cantik itu.. mahal ya?! (antara saya dan kawat orthodontic)

  1. Nnada cAhoChi berkata:

    wah gitu yah kalau pasang behel untuk merapikan susunan gigi yang tidak teratur apa itu haram…

    • wulan berkata:

      permisi bantu jawab, menurut saya n beberapa buku yang telah saya pelajari. pemasangan behel yang apabila fungsinya adalah untuk kesehatan insya allah tidak haram. karena ada beberapa masalah yg timbul apabila si x tidak di segerakan merapikan gigi misal masalah pencernaan, pendengaran, mata dll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s